Kelaparan “Hantui” Seluruh Warga Gaza di Tengah Krisis Pangan Akibat Agresi Israel

AMANPALESTIN.ID- Seluruh warga Gaza yang makin terkepung sejak agresi Israel dua bulan lalu berada dalam krisis ketersediaan makanan. Berdasarkan sistem emantauan kelaparan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Kamis (21/12), setiap warga negara di Jalur gaza menghadapi kerawanan pangan akut yang tinggi selama enam minggu ke depan.

Dirangkum AlMayadeen, Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC), sebuah kategorisasi kerawanan pangan dalam lima skala, meramalkan dalam “skenario yang paling mungkin” bahwa pada tanggal 7 Februari, “seluruh penduduk di Jalur Gaza (sekitar 2,2 juta orang yang terkepung)” akan menghadapi kelaparan “krisis atau lebih buruk”.

“Ini adalah jumlah tertinggi orang yang menghadapi kerawanan pangan akut tingkat tinggi yang pernah diklasifikasikan oleh inisiatif IPC untuk wilayah atau negara tertentu,” kata IPC.

Peningkatan intensitas pengeboman, kekurangan makanan dan air, serta pengungsian massal setiap harinya terhadap warga Gaza meningkatkan kekhawatiran. Laporan tersebut menambahkan pada 7 Februari, setengah dari populasi akan berada pada fase “darurat”, meliputi kekurangan gizi akut parah dan angka kematian yang tinggi.

“Meskipun tingkat malnutrisi akut dan kematian terkait non-trauma mungkin belum melewati ambang batas kelaparan, hal ini biasanya disebabkan oleh kesenjangan konsumsi makanan yang berkepanjangan dan ekstrim.”

Senada IPC, Euro Med Human Rights Monitor menerbitkan sebuah studi baru pada Selasa (19/12), mengenai tingkat kelaparan yang mengkhawatirkan di Gaza, Palestina. Studi tersebut mengungkapkan, 71 persen penduduk Gaza sedang bergulat dengan kelaparan akut, sementara 98 persen menghadapi kekurangan asupan makanan. Selain itu, 64% diantaranya beralih mengonsumsi buah-buahan, makanan liar atau mentah, dan makanan kadaluarsa sebagai cara untuk mengurangi rasa lapar.

Studi tersebut juga menyoroti, tingkat akses air harian bagi individu di Jalur Gaza, mencakup air minum, mandi, dan air bersih mencapai 1,5 liter per orang. Jumlah ini kurang dari 15 liter dibandingkan dengan kebutuhan air penting untuk kelangsungan hidup sesuai standar internasional SPHERE.

Penelitian ini juga menyelidiki dampak malnutrisi dan tidak adanya akses terhadap air minum yang aman. Enam puluh enam persen peserta dalam penelitian ini mengungkapkan kejadian atau riwayat penyakit pencernaan, diare, dan ruam kulit selama bulan ini.

YAPI Media
Share this post:
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments