Serang muslimin Palestina yang sedang sholat Idul Adha di Masjid Al-Aqsa, Israel dikecam negara Arab

AMANPALESTIN.ID - Lebaran Idul Adha tahun ini menjadi hari raya mencekam di Masjid Al-Aqsa setelah ribuan Yahudi ekstremis mendobrak masuk dan menyerang umat Islam yang sedang menunaikan sholat eid.

Portal Youm7, Senin (12/08/2019) menyebutkan bahwa jumlah Yahudi ekstremis yang menyerang Masjid Al-Aqsa mencapai 1340 orang. Mereka dikawal ketat oleh pasukan pertahanan Israel (IDF) yang bersenjata lengkap.

Melihat hal ini, warga tidak tinggal diam. Mereka berupaya mengusir ribuan Yahudi esktremis tersebut. Bentrok panas akhirnya tak dapat dihindari. Masjid Al-Aqsa yang sebelumnya tenang berubah menjadi mencekam. IDF menembak warga sipil  dengan peluru karet, gas air mata.  Sekitar 65 warga luka-luka.

Aksi brutal yang dilakukan Yahudi ekstremis dan IDF tersebut dikecam keras oleh lembaga Islam dan Arab. Mereka menilai pelanggaran hukum terhadap bangsa Palestina merupakan serangan terhadap seluruh umat Islam.

Parlemen Arab

Hal ini seperti disampaikan Ketua Parlemen Arab, Dr. Meshaal bin Fahm al-Salami, yang mengecam keras serbuan Yahudi ekstremis ke Masjid Al-Aqsa.  “Serangan terhadap warga Palestina adalah serangan terhadap umat Islam di seluruh dunia, ‘’ tegasnya.

Beliau juga meminta lembaga  internasional agar tidak tinggal diam serta mengambil langkah serius menghentikan pelanggaran hukum Israel.

Liga Arab dan OKI

Disaat yang sama Sekretaris Jenderal Arab, Ahmed Aboul Gheit, juga mengecam serbuan Yahudi ekstremis terhadap Al-Aqsa. “Apa yang dilakukan Israel mencerminkan rencana mereka untuk merebut Al-Aqsa serta menyingkarkan umat Islam. Bahkan di hari lebaran pun mereka berani melakukan tindakan keji, ‘’ ucapnya.  

Organisasi Kerjasama Islam (OKI) juga mengutuk serbuan Yahudi ekstremis terhadap Al-Aqsa. “Tindakan Israel merupakan pelanggaran nyata dan serius terhadap Konvensi Jenewa serta hukum internasional, ‘’ tulis  Organisasi yang berbasis di Jeddah tersebut.

Hal senada juga disampaikan Marzouq Al-Ghanim. Ketua Parlemen Kuwait tersebut menyerukan bangsa Arab, negara muslim dan dunia internasional untuk mengambil tindakan serius menekan Israel.

 “Meninggalkan bangsa Palestina menghadapi Israel sendirian tanpa bantuan dan dukungan adalah tindakan memalukan, ‘’ ujarnya dalam konferensi pers. 

“Menghadapi perampok ini adalah bagian dari takdir dan Iman kita kepada Tuhan. Jika memang tak mampu dengan militer maka kita dapat menghadapi Israel dengan politik, budaya dan HAM, ‘’ tegasnya.

Lebaran Idul Adha tahun ini menjadi hari raya mencekam di Masjid Al-Aqsa setelah ribuan Yahudi ekstremis mendobrak masuk dan menyerang umat Islam yang sedang menunaikan sholat Eid.

Kota suci Yerusalem mulai diduduki Israel pada saat perang tahun 1967. Lalu pada 1980 Israel mengambil alih seluruh wilayah Al-Quds timur dan barat, kemudian  mengklaimnya sebagai ibu kota negara Yahudi  abadi dan tak terbagi, dimana langkah ini ditentang dunia internasional

Lalu, pada 6 Desember 2017 Presiden AS, Donald Trump mendeklarasikan bahwa Al-Quds adalah ibukota Israel. Gedung Putih kemudian merelokasi Kedubesnya ke kota suci tersebut pertengahan Mei 2018.

Langkah AS yang terang-terangan mendukung Israel ini, memberikan lampu hijau bagi Tel Aviv untuk merebut kota suci Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa serta menggusur warga Palestina.

Sejak saat itu hubungan Palestina dan AS tegang. Ramallah memilih angkat kaki dari  dari Deal of Century, sebuah perjanjian damai Israel – Palestina yang dirumuskan AS.  Palestina menilai AS tidak lagi cocok menjadi mediator negosiasi damai karena keberpihakannya terhadap Israel. ( Sumber : Suara Palestina )