REZIM SURIAH KEMBALI MEMBANTAI 20 PENGUNGSI TAK BERDOSA

Setidaknya 20 pengungsi yang telah kembali ke Suriah dari Libanon telah dibunuh oleh rezim dan pasukan sekutu mereka, Menteri Urusan Pengungsi Libanon, Mouin Merehbi, mengumumkan pada hari Sabtu (3/11). 

"Kehidupan pengungsi Suriah yang kembali dari Lebanon ke daerah-daerah yang dikendalikan oleh rezim Suriah berada dalam bahaya," kata Merehbi kepada wartawan.

Menteri Lebanon ini menyebutkan secara spesifik satu kasus di mana tiga warga Suriah yang telah masuk kembali ke negara itu delapan bulan lalu, dibunuh pada akhir Oktober di pedesaan Homs. 

Dua dari tiga warga tersebut hanya berusia 13 dan 14 tahun; yang ketiga adalah ayah mereka, yang dilaporkan berusia sekitar 50 tahun. 

Kantor berita oposisi Suriah Zaman Al Wasl menyatakan bahwa pembunuhan itu dimotivasi oleh sektarianisme, mencatat bahwa setidaknya lima anggota lain dari keluarga yang sama telah ditangkap oleh pemerintah Suriah sejak 2013.

"Informasi yang diterima juga menunjukkan mereka dibunuh oleh seorang pejabat senior di tentara rezim Suriah," kata Merehbi, menambahkan bahwa jumlah korban tewas bisa lebih tinggi, tetapi kementriannya tidak memiliki kemampuan untuk menguatkan laporan lainnya. 

Sekitar 55.000 warga Suriah diyakini telah kembali ke rumah mereka dari Lebanon, jumlah yang diperkirakan oleh otoritas Keamanan Umum Libanon bahkan mendekati lebih dari 90.000 orang. 

Namun Merehbi melanjutkan dengan mengkritik kurangnya koordinasi antara kementeriannya dan aparat keamanan, yang telah mendirikan pusat-pusat untuk mendaftarkan para pengungsi yang kembali ke Suriah. Sementara beberapa warga Suriah telah meninggalkan Lebanon atas kemauan mereka sendiri, program pemerintah Lebanon lainnya telah meminta para pengungsi untuk kembali ke daerah-daerah Suriah yang dianggap aman. Beberapa pusat bahkan memberlakukan larangan seumur hidup terhadap banyak pengungsi untuk kembali ke Lebanon, tetapi mendokumentasikan pengembalian ini sebagai tindakan sukarela dari pengungsi. 

Awal tahun ini, Hizbullah, yang berpihak pada rezim Suriah dalam konflik melawan kelompok oposisi, juga mengumumkan pembukaan beberapa pusat di seluruh Lebanon untuk membantu mereka yang bersedia secara sukarela kembali ke Suriah. Namun, tidak ada jaminan yang disediakan oleh kelompok militer, atau rezim Suriah, bahwa mereka yang kembali akan dilindungi dari segala bentuk pembalasan, terutama mereka yang mendukung revolusi melawan Presiden Suriah Bashar Al-Assad. Banyak yang takut akan apa yang menunggu mereka saat kembali. 92 persen pengungsi di kamp Arsal Lebanon, yang disurvei oleh Zaman Al-Wasl, menyatakan bahwa mereka tidak akan kembali ke kota-kota yang dianggap aman di Qalamoun barat. 

"Jika rezim Suriah benar-benar ingin warga Suriah kembali, mereka harus berhenti membunuh mereka ketika mereka pulang," kata Merehbi.

Pada bulan Agustus, Human Rights Watch mengutuk pengusiran paksa pemerintah Libanon terhadap ratusan pengungsi Suriah dari rumah sementara mereka di negara itu, dalam sebuah laporan berjudul, "Rumah Kami Bukan Untuk Orang Asing". 

"Setidaknya 13 kotamadya di Lebanon telah menggusur paksa sedikitnya 3.664 pengungsi Suriah dari rumah mereka dan mengusir mereka dari kota tersebut, karena kebangsaan atau agama mereka," kata laporan itu, menambahkan bahwa 42.000 lainnya tetap berada dalam resiko penggusuran. 

Pejabat HRW mewawancarai sekitar 57 warga Suriah yang terpengaruh oleh penggusuran baru-baru ini, serta pejabat kota dan ahli hukum, mencatat bahwa kekerasan sering digunakan untuk memaksa pengungsi pergi dari tempat tinggal mereka. 

Berdasarkan hukum internasional, pengungsi tidak dapat dideportasi ke negara di mana mereka berisiko mengalami pelecehan, dan semua pengembalian harus bersifat sukarela, aman dan bermartabat. Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (HCR) dan pemerintah Barat telah memperingatkan bahwa terlalu dini untuk membahas pengembalian pengungsi skala besar ke Suriah, karena ketidakamanan dapat menyebabkan gelombang pengungsian kedua.