Kesepakatan Terakhir Tak Bisa Alihkan Gaza dari Konflik dengan Israel

AMANPALESTIN.ID - Anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Hamas Khalil Hayyah mengatakan bahwa kesepahaman yang ditandatangani dengan penjajah Israel yang dimedisi oleh Mesir tidak dapat mengalihkan Gaza dari konflik dengan penjajah Israel.

Dalam wawancara dengan televisi al-Aqsa pada Rabu malam (17/4/2019), Hayyah mengatakan bahwa tidak ada harga politik untuk kesepakatan tersebut. Kesepakatan tersebut ditandatangani dengan imbalan pembekuan cara-cara kasar terhadap aksi pawai kepulangan dan pembebasan blokade.

Hayyah mengatakan, “Bahwa masalah tawanan dan Masjid Al-Aqsha ditetapkan dalam meja perundingan. Kami katakan kepada para mediator bahwa tidak ada kesepahaman yang dapat menghentikan kami untuk membela masalah nasional kami.”

Dia memperingatkan semua pihak, "Gaza tidak dapat menerima untuk terus hidup dalam kepahitan ini. Semua pihak tidak boleh bertaruh pada kesabaran rakyat Palestina untuk menderita. Kami akan terus melakukan aksi pawai dengan segala cara. Kami akan mengetuk semua pintu untuk pembebasan blokade, tidak peduli berapa pun harganya.”

Dia menegaskan bahwa yang menjamin agar penjajah komitmen dengan kesepahaman-kesepahaman ini adalah kegigihan rakyat Palestina dan perlawanannya, serta sarana-sarana aksi pawai kepulangan yang digumpalkan.

Hayyah mengatakan, "Dampak dari kesepahaman ini kami lihat dalam perbaikan jadwal listrik sejak enam bulan yang lalu melalui bantuan Qatar, yang akan berlanjut hingga Idul Fitri. Diperkirakan akan diperbarui. Jika mereka menghentikan, kesepahaman ini menyatakan agar stasiun pembangukit listrik disediakan bahan bakar tanpa pajak."

Dia menjelaskan bahwa di antara isi kesepahaman ini adalah pelaksanaan proyek untuk memperluas saluran listrik baru, dan mengkonversi pabrik stasiun pembangkit listrik agar beroperasi dengan gas alam, serta mendirikan stasiun-stasiun pengakit listrik tenaga surya, yang didanai oleh negara-negara asing.

Hayyah meminta utusan PBB Nikolai Mladenov untuk mempercepat pelaksanaan proyek pemberdayaan 20 ribu lulusan dan pengangguran dengan dana sebesar 45 juta dolar, yang didanai dari Bank Dunia, PBB dan Negara Qatar. Dia mengingatkan bahwa sekarang ini ada 15 ribu orang yang bekerja di proyek pemberdayaan sementara, setengah dari mereka didanai oleh dana dari Gaza dan separuh lainnya di bawah hibah negara Qatar.

Hayya mengatakan bahwa kesepahaman terbaru ini tidak melupakan keluarga miskin dan terpinggirkan. Qatar memprakarsai bantuan 250.000 keluarga dengan dana 100 dolar perkeluarga, yang akan digunakan untuk bantuan makanan di bulan Ramadhan untuk keluarga-keluarga ini. (Sumber: Melayu Palinfo)